
Marabahan Kalsel, detikborneo.com – Nama Prof. Ir. Anwari Dilmy mungkin tidak banyak dibicarakan generasi hari ini. Namun, di kalangan ilmuwan botani dunia, ia adalah salah satu putra terbaik Kalimantan yang jejaknya tercatat kuat dalam sejarah ilmu pengetahuan Indonesia.
Salah satu tokoh besar yang menuliskan memoar tentang dirinya adalah André Joseph Guillaume Henri Kostermans, seorang pakar botani kelas dunia yang dikenal luas karena penelitiannya tentang flora Asia Tenggara. Fakta bahwa seorang ilmuwan besar menulis memoar khusus untuk Prof. Anwari Dilmy bukanlah hal kecil. Itu adalah pengakuan akademik yang sangat tinggi pada masa itu.
Dalam tulisannya berjudul “In Memoriam Professor Anwari Dilmy” yang diterbitkan oleh Herbarium Bogoriense, Kostermans menulis bahwa wafatnya Prof. Anwari Dilmy pada 25 April 1979 adalah kehilangan besar bagi Indonesia, karena ia telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga koleksi ilmiah yang sangat berharga bagi bangsa ini.
Cendekiawan Dayak yang Diakui Dunia
Prof. Anwari Dilmy lahir di Marabahan pada 11 Agustus 1915. Sejak kecil, kecerdasannya sudah menonjol. Saat masih bersekolah di M.U.L.O. di Banjarmasin, para gurunya sudah melihat potensi besar dalam dirinya.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Surabaya dan Bogor. Di sanalah ia mulai membangun fondasi keilmuan yang kelak membawanya menjadi ilmuwan botani yang diakui secara internasional. Ia aktif dalam berbagai organisasi ilmiah dunia, termasuk Komite Tetap Botani di Pacific Science Association dan Komite Nasional Sumber Daya Alam.
Selama karier akademiknya, ia menulis sekitar 25 karya ilmiah. Salah satu yang terkenal adalah penelitian tentang tumbuhan perintis setelah letusan Gunung Agung tahun 1963 di Bali. Penelitian ini menunjukkan kepakarannya dalam memahami bagaimana alam pulih setelah bencana.
Menjadi Rektor Ke-4 Universitas Lambung Mangkurat
Pada tahun 1970, Prof. Anwari Dilmy kembali ke Banjarmasin. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Rektor ke-4 Universitas Lambung Mangkurat periode 1971–1979. Pada tahun 1972, ia juga memperoleh gelar Guru Besar Luar Biasa.
- Baca juga: Ketua Umum DAD DKI Jakarta Ucapkan Selamat, Benny Matriksa Resmi Pimpin DPW ICDN DKI Jakarta
Selama memimpin ULM, ia tidak hanya membangun kampus sebagai pusat pendidikan, tetapi juga menjadikannya pusat penelitian yang berakar kuat pada kekayaan alam Kalimantan. Ia aktif memperluas kerja sama internasional dan menjadikan universitas sebagai motor pengembangan Kalimantan Selatan.
Bagi beliau, universitas bukan sekadar tempat kuliah, tetapi pusat peradaban ilmu yang harus berpihak pada lingkungan dan masyarakat.
Menjaga Nyala Api Ilmu Pengetahuan
Menjaga semangat Prof. Anwari Dilmy berarti menjaga dedikasi terhadap ilmu pengetahuan yang berpijak pada kekayaan alam lokal. Ia telah menunjukkan bahwa seorang cendekiawan Dayak mampu berdiri sejajar dengan ilmuwan dunia, tanpa harus meninggalkan identitasnya.
Integritas ilmiah yang ia teladankan menjadi kompas moral bagi generasi akademisi hari ini. Di tengah arus disrupsi informasi dan tekanan industrialisasi, nilai kejujuran dalam penelitian yang ia pegang teguh harus tetap menjadi pegangan.
Generasi masa depan tidak cukup hanya mengejar gelar. Mereka harus memiliki kedalaman ilmu dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat serta alam Kalimantan.
Warisan yang Harus Dihidupkan Kembali
Visi internasional yang dimiliki Prof. Anwari Dilmy membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk mencapai pengakuan dunia. Ia berhasil membawa nama Indonesia, bahkan Kalimantan, ke panggung ilmu pengetahuan global.
Universitas di Kalimantan masa depan harus berani melangkah lebih jauh—memperkuat kolaborasi internasional, menghidupkan kembali riset lingkungan, dan menjadikan hutan Borneo sebagai laboratorium hidup bagi generasi muda.
Menjaga warisan beliau berarti menjaga marwah intelektual sebagai cendekiawan yang tangguh dan unggul. Api pengetahuan itu tidak boleh padam.
Penutup
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H tahun 2026, saya pulang kampung ke Marabahan. Di tepian Sungai Barito, saya kembali teringat sosok Prof. Ir. Anwari Dilmy—mantan Rektor ULM ke-4, seorang cendekiawan Dayak yang telah menjelajah dunia melalui ilmu pengetahuan.
Ia adalah burung enggang yang terbang jauh, membawa nama Kalimantan ke panggung dunia. Dan tugas generasi hari ini adalah menjaga agar nyala api itu tetap hidup.
(Tepian Sungai Barito, 20 Maret 2026)
Penulis: Setia Budhi, Ph.D / Bajare007
Dosen Senior FISIP ULM





