
oppo_2
Palangka Raya, detikborneo.com — Setiap orang yang mendarat di Ibu Kota Kalimantan Tengah pasti mengenal nama Bandara Tjilik Riwut. Namun tidak banyak yang benar-benar mengetahui sosok besar di balik nama itu. Tjilik Riwut bukan sekadar tokoh lokal, melainkan pahlawan nasional yang jejak perjuangannya tertanam kuat dalam sejarah Indonesia dan tanah Dayak. Ia juga merupakan wartawan Dayak dan wartawan Nasrani pertama dari Kalimantan yang kemudian menjadi tokoh penting dalam perjuangan awal Republik.
Satu-Satunya Pahlawan Nasional dari Kalimantan Tengah
Tjilik Riwut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI Nomor 108/TK/1998 pada 6 November 1998 oleh Presiden B. J. Habibie. Hingga kini, ia tetap menjadi putra pertama dan satu-satunya dari Kalimantan Tengah yang menerima kehormatan tersebut.
Dedikasinya bagi negara terekam jelas dalam sejarah, termasuk memimpin Sumpah Setia Suku Dayak pada 17 Desember 1946, serta keterlibatannya dalam penerjunan payung pertama ke Kalimantan pada 17 Oktober 1947—dua momentum strategis dalam mempertahankan keutuhan Republik Indonesia.

Gubernur Pertama dan Bapak Pembangunan Kalteng
Di tingkat daerah, Tjilik Riwut dikenang sebagai gubernur pertama dan bapak pembangunan Kalimantan Tengah. Pada masa awal berdirinya provinsi ke-17 Indonesia ini, ia berperan besar merancang dan membangun kota Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi.
Putra Dayak Ngaju dari Kasongan
Tjilik Riwut lahir di Kasongan, di tepi Sungai Katingan, dari pasangan Riwut Dahiang dan Piai Sulang. Sejak muda ia telah menunjukkan cita-cita besar untuk memajukan bangsanya. Pada usia 18 tahun, ia merantau ke Pulau Jawa demi memperluas wawasan dan kemampuan.
Dari Loper Koran Menjadi Wartawan dan Pejuang
Di Purwakarta, Jawa Barat, Tjilik Riwut mendalami dunia jurnalistik dan belajar langsung dari tokoh besar seperti Sanusi Pane dan M. Tabrani. Ia pernah menjadi loper koran sebelum menjadi wartawan—menjadikannya salah satu wartawan Dayak pertama sekaligus wartawan Nasrani generasi awal dari Kalimantan.
Setelah Proklamasi 1945, ia bergabung dengan Gubernur Borneo untuk kembali ke Kalimantan. Namun perjalanan mereka digagalkan oleh tembakan NICA pada 10 November 1945. Ia kemudian menuju Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia. Di sinilah ia mendapat latihan militer, intelijen, dan penerangan rakyat. Di kota ini pula ia bertemu jodohnya, seorang perawat bernama Clementine Suparti.
Angka 17, Angka Keramat dalam Hidupnya
Angka 17 memiliki makna istimewa bagi Tjilik Riwut. Selain tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia, banyak peristiwa penting dalam hidupnya terjadi pada tanggal yang sama:
- 17 Desember 1946 – Sumpah Setia Suku Dayak (PAKAT DAYAK)
- 17 Oktober 1947 – Penerjunan payung pertama ke Kalimantan
- Kalimantan Tengah menjadi provinsi ke-17 di Indonesia
- 17 Juli 1957 – Peletakan batu pertama Kota Palangka Raya
- 17 Agustus 1987 – Tjilik Riwut wafat
- Mobil dinasnya berpelat KH 17, nomor telepon kantor gubernur pun 17
- Sepanjang hidupnya ia menerima 17 tanda jasa
Karena itu angka ini sering disebut sebagai “angka keramat” Tjilik Riwut.
Nama yang Diabadikan di Bandara, Jalan, Gedung, dan Sekolah
Warisan Tjilik Riwut diabadikan melalui berbagai fasilitas publik penting, antara lain:
- Bandara Tjilik Riwut
- Jalan Tjilik Riwut, jalan terpanjang di Kalimantan Tengah
- Gedung serbaguna
- SPN (Sekolah Polisi Negara)
Selain itu, terdapat lokasi bersejarah seperti Rumah Tjilik Riwut dan Pertapaan Tjilik Riwut di Bukit Batu, Katingan—yang kini menjadi tempat wisata sejarah dan refleksi perjuangan. Rumah yang kini menjadi restoran dan galeri itu dulunya adalah kediaman resmi sang gubernur pertama, lengkap dengan foto dan memorabilia perjuangannya.
Jejak Tjilik Riwut bukan hanya tercatat dalam sejarah, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat Dayak dan bangsa Indonesia sebagai teladan keberanian, kesetiaan, dan pengabdian tanpa batas. (Penulis: Sylvana Toemon / Bajare007)





