33.3 C
Singkawang
More
    BerandaSastraCerpen | Tulak Mongan

    Cerpen | Tulak Mongan

    | Penulis: Lisa Mardani

    Di pojok ruangan terdapat pelita yang terbuat dari kaleng. Diisi dengan minyak tanah dan diberi sedikit kain sebagai sumbunya. Pelita mulai dinyalakan, pertanda hari sudah gelap.

    Pelita harus tetap menyala sampai fajar menyingsing. Meski cahayanya tidak seterang lampu pijar, namun seberkas cahayanya mampu mengusir kegelapan dalam ruangan.

    Malam pun semakin larut dan berbalut sepi. Udara yang dingin merayu hati. Di tengah pekatnya malam yang sunyi. Terpancar lembutnya cahaya bulan purnama. Sebagian cahaya rembulan terhalang oleh pepohonan yang rindang, tinggi menjulang. 

    Ovang, tidur lelap dalam mimpinya. Namun, seketika semua buyar. Kokok ayam jago mengagetkannya. Pertanda kegelapan akan segera lenyap. 

    Maka bangunlah Ovang. Bergegas ia turun dari rumah panggungnya. Ia terus melangkah, menuju ke sebuah kandang ayam. Lalu dibukanyalah kandang bambu dengan perlahan. Ditangkapnya seekor ayam hitam. Hitam semua bulunya sampai ke ujung kaki. Ayam hitam dipilihnya sebagai persembahan syarat ritualnya. 

    Hari itu merupakan hari istimewa. Hari pertama bagi anaknya untuk tulak mongan/ngandup pergi berburu). 

    Mulailah Ovang melakukan upacara ritual adatnya. Seekor ayam hitam dikibaskan sebanyak tiga kali. Sambil mengibaskan ayam, ia mulai mengucapkan doa manantra.

    “Balang dalang jok jaat jaek, mondam poros. Balang noh dalang huang ahtoi ulun jok jaek”. (Gagallah segala mara bahaya. Gagal segala niat orang jahat. Gagal segala rencana musuh yang hendak datang menyerang).

    Ketiga kalinya ia berkata sambil mengibaskan ayam. 

    “Solung noh dalang jok pios lagui, segah bohurui!”. (Biarlah terjadi segala hal yang terbaik dan dimudahkan segala rejekinya. Kiranya berkat dan perlindungan dari sang pencipta, senantiasa menyertai perjalanan kami pada hari ini).

    Masih ada lagi bait doa yang dipanjatkan kepada “Otuk Lio”. Memohon ijin dan restu dari-Nya. 

    Seekor ayam hitam mulai disembelih. Perlahan, darah ayam mulai menetes. Darah ayam ditampung dalam sebuah mangkok keramik putih. Ovang dan anaknya mulai turun melalui tingkap-tingkap tangga rumah panggung. Tak lupa ia membawa parang, lunjuk/tombak dan landong[sejenis tas ransel]. Seekor anjing piaraannya langsung melompat kegirangan. Selalu setia menemani tuannya bila pergi keluar rumah.

    Mereka terus melangkah, menuju ke tepi sungai Momaluh. Air sungai terlihat seperti air teh. Warna alami dari daun-daun yang jatuh berguguran dan mengendap di dasar sungai.

    Ovang mulai melepaskan tali perahu yang terikat pada sebatang pohon kocuhi. Pohon yang rindang dan berbatang besar. Tumbuh dengan kokoh di pinggiran sungai. Perlahan, tali perahu digulung dan diselipkan di bagian depan perahu. Semua barang bawaan diletakkan di atas perahu.

    Ovang bersama putranya naik ke sebuah perahu. Seekor anjing berdiri diposisi depan perahu untuk memantau setiap situasi. Perlahan namun pasti.

    Mendayung sampan menyusuri aliran sungai yang berliuk-liuk.

    Sepanjang perjalanan menyusuri sungai disuguhkan dengan panorama alam. Dengan nuansa perbukitan yang menawan dan hutan lebat.

    Di sepanjang sungai terdapat banyak jeram yang membuat hati ingin berpetualang mengarunginya.

    Setelah dua jam perjalanan mendayung sampan. Akhirnya sampailah mereka di sebuah air terjun Nohkan Molahung (Air terjun Durian Merah). 

    “Kita berhenti di sini saja nak. Air terjun ini terlalu tinggi. sampan kita tidak bisa melewatinya”, kata pak Ovang. 

    Mereka segera turun dari perahu dan mengikat perahu pada sebatang pohon yang kokoh. Mereka beristirahat sejenak. Sambil minum sedikit air tuak untuk menghangatkan badan. Ketika duduk di atas batu yang besar, mereka memandang keindahan alam. Suara riuh terdengar dari pancuran air terjun yang tumpah dengan limpah. 

    Mereka masih harus melanjutkan perjalanan. Menaiki bukit-bukit yang terjal. Suasana di hutan begitu tenang dan meneduhkan. Hanya terdengar nyanyian merdu dan musik alami burung-burung yang bertengger di atas pohon. Pepohonan begitu rindang dan tinggi menjulang. Di balik ketenangan dan keindahan alam, tersimpan sejuta misteri.

    Sekitar satu jam perjalanan, mereka mulai menemukan jejak buruan. “Wah, ini pertanda bahwa target buruan sudah dekat”, kata Ovang.

    Mereka mulai berjalan dengan perlahan mengikuti jejak itu. Saat suasana begitu hening mengintai buruan. Tiba-tiba kaki Ovang menginjak sesuatu dalam tumpukan dedaunan. Seketika terdengar suara dari arah belakangnya. Perlahan namun pasti. Suara itu datang menghampiri. Suara mendesis ssssiiit… Sontak saja kaget bukan kepalang. 

    “Esah donik!” (jangan mendekat!) teriak Ovang.

    Seketika Juan pun langsung mundur. 

    Ternyata pak Ovang telah menginjak Lohik tolahpak (raja ular). Ular raksasa itu membunyikan ekornya dibalik dedaunan untuk menjebak mangsanya. Pak Ovang hendak berlari menjauh. Namun apa daya. Jarak diantara mereka sudah dekat. Sekejap saja ular itu langsung melemparkan ekornya dan melilit kaki Ovang. Seketika jatuhlah Ovang. Raja ular mulai melilit tubuhnya. Ketika ular hendak mematuk, dengan cekatan tangan Ovang menangkap leher ular itu dengan sekuat tenaga. Mereka bertarung dengan hebat.

    Juwan segera memberikan pertolongan kepada bapaknya. Diambilnya kayu dan dipukulnyalah tubuh ular itu. Namun sia-sia saja. Tubuh ular raksasa yang besar tak merasakan efek apa pun dari pukulan anak kecil. Ular semakin erat melilit tubuh Ovang.

    Seekor anjing juga turut membantu majikannya. Menggonggong, menggigit dan mencakar tubuh ular. Namun ular itu masih saja tak mau melepaskan mangsanya.

    Langit serasa runtuh, dan alam maut segera menjemput. Tetapi Ovang sesungguhnya belum siap untuk pergi ke alam baka. Apalagi dengan cara yang mengenaskan. Berserulah ia kepada sang pencipta alam semesta. Serta memohon kepada “Otuk Lio”. Aku harus tetap hidup demi anak ku”. Kata pak Ovang dengan sisa napas yang sangat sesak. Seketika ia ingat sesuatu.

    “Tembakau,” serunya.

    “Kenapa apak, ada apa dengan tembakau?” tanya Juwan kebingungan.

    “Itu nak, rokok tembakau yang biasa bapak gunakan untuk merokok. Keluarkan tembakau yang tadi bapak simpan di dalam landong. Ambilah segumpal, taruh di telapak tanganmu. Siram tembakau itu dengan sedikit air tuak,” seru Ovang.

    Tak pikir lama, Juwan bertindak. Tembakau yang basah diteteskan ke dalam mulut ular yang menganga. Perlahan ular itu mulai lemas dan melepaskan lilitannya.

    Segera Ovang bangun dan mengumpulkan barang bawaannya yang tercecer akibat jatuh. 

    “Ayo nak, kita harus segera pergi dari sini. Sebelum ular itu bangun dan menyerang kita,” kata Ovang.

    Setelah berjalan jauh, tibalah mereka di sebuah sungoi Tambun (sungai Tambun). Dari kejauhan airnya terlihat kebiruan. Tetapi dari jarak dekat terlihat begitu jernih dan menyegarkan. Terlihat penyu, kura-kura dan ikan-ikan yang berenang sembari menari-nari. Batu kristal yang berwarna-warni semakin menambah keindahan sungai.

    “Kamu istirahat disini dulu ya nak. Bapak mau mandi di sungai untuk membersihkan badan,” kata Ovang.

    “Ya pak,” jawab Juan dengan singkat.

    Ovang meletakan barang bawaannya di tepi sungai. Setelah mandi, mereka pun makan bekal yang dibawa dari rumah. Mereka sudah kenyang makan dan minum dari air sungai itu. Tetapi Juwan masih saja terlihat lesu. Wajahnya terlihat pucat, murung dan ketakutan.

    “Nak, pemburuan kita hari ini cukup sampai di sini saja ya. Sepertinya, hari ini kita belum beruntung,” kata Ovang. 

    Ovang sebenarnya masih sok dan gemetar. Sebab baru pertama kalinya ia berhadapan dengan ular raksasa hingga nyaris kehilangan nyawa. Tetapi, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan putranya. Biar bagaimanapun, ia punya tanggung jawab untuk melatih mental anaknya. Apalagi berburu merupakan tradisi dan kewajiban bagi laki-laki.

    Sambil menepuk bahu anaknya, Ovang berkata, “Sabar ya nak. Sudahlah, tidak usah takut. Hal itu sudah biasa terjadi di hutan. Lama-lama juga kamu akan terbiasa”.

    “Oh… jadi ternyata bapak sudah biasa menghadapi ular?” tanya Juwan. 

    “Oh ia, tentu saja. Bapak sudah biasa menghadapi berbagai jenis ular dan hewan buas lainnya,” jawab Ovang. 

    Kembali ovang menjelaskan pada anak nya:

    “Konflik antara manusia dan ular memang sering terjadi. Untuk mengantisipasinya, kita harus memelihara anjing dan membawanya saat pergi ke hutan. Anjing akan membantu majikannya jika ada ancaman dari hewan liar di sekitar manusia.

    Biasanya, ular tidak akan memangsa dan tidak akan mengganggu manusia jika hutan ini tetap lestari. Itulah sebabnya betapa pentingnya kita harus menjaga kelestarian alam.

    Sebab di hutan inilah tersedia seluruh kebutuhan mahluk hidup”. Kata Ovang.

    Juwan tersenyum lebar dan berkata: “wah… bapak hebat! kalau begitu, aku harus lebih sering ikut bapak berburu. Aku mau belajar berburu.” 

    “Ia nak, tentu saja bapak akan sering mengajakmu berburu. Sekarang

    mari kita pulang,” sahut Ovang. 

    ***

    Bionarasi

    Profil BionarasiLisa

    Lisa Mardani, S.Pd.K., dilahirkan di Kepingoi, Kalimantan Barat pada 11 Oktober 1986. Seorang perempuan dari suku Dayak Uud Danum. Sejak tahun 2021 aktif menulis feature tentang suku Dayak Uud Danum.

    Latest articles

    Explore more

    Arsip berita

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini