
Oleh: Imam Suwandi, S.Sos., M.I.Kom.(Praktisi Media, Akademisi, Pengamat Sosial Politik, & Dewan Pembina DPD SWI Kabupaten Tangerang)
Jakarta, detikborneo.com – Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Momen sejarah ini bukan sekadar rutinitas seremoni tahunan, melainkan pengingat mendalam atas jejak perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui ikrar Resolusi Jihad 1945.
Memasuki tahun 2026, peringatan Hari Santri mengusung tema visioner: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menegaskan kembali posisi strategis komunitas pesantren—bukan lagi hanya sebagai pilar penjaga tradisi moral dan keagamaan, melainkan sebagai mesin penggerak transformasi bangsa menyongsong seperempat abad Indonesia Merdeka di tahun 2045.
Harmoni Kesadaran Beragama dan Bernegara
Dua pijakan utama yang mendasari kehidupan santri adalah kesadaran beragama dan kesadaran bernegara. Keduanya tidak saling bertolak belakang, melainkan terjalin harmonis. Nilai-nilai keagamaan menjadi fondasi moral dan spiritual, sementara kesadaran bernegara menjadi panggung pengabdian sosial dan kebangsaan.
Di tengah dinamika disrupsi teknologi, arus informasi tanpa batas, hingga perubahan lanskap geopolitik global, Indonesia membutuhkan modal sosial yang kuat. Santri hadir menawarkan solusi atas krisis moralitas dan karakter bangsa melalui keunggulan nilai-nilai khas pesantren:
Integritas dan Keteladanan
Berpegang teguh pada akhlakul karimah di tengah maraknya krisis etika publik. Kemandirian dan Daya Tahan: Terbiasa hidup prihatin, disiplin, dan pantang menyerah dalam menghadapi keterbatasan. Moderat (Wasathiyah) Menjadi perekat kebhinekaan di tengah potensi polarisasi sosial politik. Tantangan Modern: Santri di Era Digital dan Media.
Menghadapi era menuju Indonesia Emas, tantangan santri hari ini tidak lagi di medan perang fisik, melainkan di ranah peradaban digital, sains, dan literasi.”Santri modern dituntut tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mahir membaca algoritma, menguasai teknologi informasi, serta responsif terhadap isu-isu sosial-ekonomi,” tegas Imam Suwandi.
Dalam perspektif media dan komunikasi, santri harus mampu memegang peranan penting sebagai kontra-narasi terhadap maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan narasi radikalisme yang dapat memecah belah bangsa. Kolaborasi antara insan media/pers dengan dunia pesantren—seperti yang terus didorong oleh Sekber Wartawan Indonesia (SWI)—menjadi krusial untuk menyuarakan gagasan-gagasan produktif santri ke ruang publik yang lebih luas.
Menatap Visi Indonesia Emas 2045Mewujudkan Indonesia Emas bukan mimpi utopis jika potensi besar jutaan santri dan ribuan pesantren di seluruh penjuru Tanah Air dapat dikonsolidasikan secara optimal.
Santri harus mengambil peran aktif di tiga lini utama: Pendidikan & Inovasi Menjadi akademisi, peneliti, dan inovator yang menghubungkan sains dengan nilai-nilai etika keagamaan. Ekonomi Syariah & Kewirausahaan: Mendorong kemandirian ekonomi berbasis pesantren dan pemberdayaan masyarakat lokal.Kepemimpinan Publik:Menjadi bagian dari pengambil kebijakan yang bersih, transparan, dan berdedikasi untuk kemaslahatan rakyat.
Hari Santri Nasional 2026 adalah momentum refleksi bersama. Negeri ini membutuhkan benteng moral yang kokoh sekaligus sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing.Selama santri terus berdiri teguh mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaannya, maka cita-cita Indonesia yang berdaulat, maju, dan sejahtera bukan lagi sekadar impian, melainkan takdir sejarah yang sedang kita wujudkan bersama.*”Santri Berdaya, Indonesia Jaya!”*(Red/Ims)*





