
“Makna di Balik Penderitaan-Nya”, Bacaan Kitab Suci (1 Petrus 2:21-25) Pdt. Paran Sakiu,S.Th.

Yesus Kristus hadir di dunia ini dalam rangka melaksanakan misi khusus yakni menggenapi apa yang telah dinubuatkan dalam kitab Perjanjian Lama. Ia hadir dalam rupa manusia dikandung dan dilahirkan oleh perawan Maria (Mat.1:18-25). Ia bertumbuh dalam segala hal (Luk.2:52). Ia melayani dalam pengajaran , penyembuhan, pengusiran Setan. Dalam pelayanan-Nya menjelajah kota maupun desa. Setelah tiba waktunya, Yesus Kristus harus mengalami penderitaan sebelum akhirnya mati diatas kayu Salib (Mat.23:44-49).
Penderitaan yang dialami-Nya bukan penderitaan biasa. Penderitaan yang tiada duanya. Untuk itu Dia bergumul dalam doa jika memungkinkan penderitaan itu tidak dialami-Nya (Luk.22:42). Namun akhirnya Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Bapa sekalipun ia harus mengalami penderitaan bahkan kematian diatas kayu salib.
Penderitaan itu diawali oleh penghianatan Yudas Iskariot, berlanjut kepada penangkapan, setelah penangkapan dibawa kepada pengadilan agama. Lalu pengadilan agama membawa-Nya kepada Pilatus, dari Pilatus dibawa kepada Herodes, dari Herodes dibawa kembali kepada Pilatus. Lalu diputuskan untuk disalibkan, Ia diolok-olok, diludahi, dicaci maki, ditinju, difitnah, kepalanya dimahkotai duri, dijadikan bahan tontonan. Disesah, dipaksa memikul salib menuju Golgota. Ia disalibkan lalu akhirnya wafat diatas kayu salib, lengkap sudah penderitaan Yesus Kristus.
Melalui kisah penderitaan Yesus yang nyata tersebut, apa maknanya bagi kita? Makna yang mendasar itu diantaranya adalah supaya hidup kita untuk kebenaran (ay.24). Penderitaan yang berakibat kematian-Nya diatas kayu salib bukan sesuatu yang konyol atau sia-sia, melainkan suatu tindakan untuk menanggung segala dosa kita. Dengan tindakan itu supaya kita kembali kepada-Nya yang adalah gembala dan pemelihara jiwa kita. Dengan kembalinya kita kepada-Nya kita dituntut hidup untuk kebenaran dengan melakukan hal yang benar dalam segala hal.
Makna dibalik penderitaan-Nya bagi kita selain yang disebutkan diatas adalah supaya hidup kita mengikuti jejak-Nya (21). Di dalam penderitaan Yesus Kristus memberikan keteladanan yang luar biasa bagi kita. Apakah keteladanan itu? Yaitu tidak berbuat dosa pada saat penderitaan datang menghampiri. Tidak ada tipu daya. Tidak membalas. Tidak mengancam melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Bapa (ay.23).
Situasi sekarang ini dengan mewabahnya covid-19 membawa kepada penderitaan untuk semua orang diberbagai belahan dunia ini tanpa terkecuali termasuk di negara kita. Betapa rapuhnya manusia itu. Untuk itu hiduplahlah dalam kebenaran dengan melakukan hal-hal yang benar termasuk bermedsos yang benar. Tetap mengikuti jejak Yesus Kristus sekalipun penderitaan itu berat yakni tidak jatuh dalam dosa. Selamat memasuki jumat Agung dengan menaruh iman dan pengharapan hanya kepada-Nya.
(penulis Pdt. Paran Sakiu,S.Th – Gembala Sidang GKRI Epifania, dan Guru di SMPK Rahmani Jakarta).








