32.3 C
Singkawang
More
    BerandaBeritaPembangunan Bandara International Singkawang

    Pembangunan Bandara International Singkawang

    | Penulis: Dr. Andersius Namsi, Ph.D   

    Kota administratif Singkawang, Kalimantan Barat bakal memiliki Bandar Udara umum. Menurut sumber yang ditemui detikborneo.com yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan bahwa Bandar udara kota Singkawang yang sering disebut sebagai Hongkong Indonesia itu juga dipersiapkan untuk menjadi Bandar udara International.

    Penyebutan Singkawang sebagai Hongkong Indonesia memang tidak salah bila melihat perkembangan banyaknya muncul Vihara atau Kelentang di berbagai tempat di kota Singkawang seiring dengan pembangunan-pembangunan fisik lainnya. Kota ini juga sering disebut kota Amoy karena putri-putri cantik Tionghoa yang berkulit putih langsat bertebaran hingga ada di sudut-sudut kota.

    Bandara Udara Kota Singkawang yang sedang dibangun terletak di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan, sekitar 13,5 Km ke arah selatan dari pusat Kota Singkawang.  Sebagai informasi, luas area yang sedang dibangun untuk Bandara Singkawang itu sebesar 151,4 hektare.

    Menurut informasi, Pembangunan Bandara ini telah dimulai pada tahun 2020 kendati pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Ditargetkan selesai pada tahun 2022 untuk pembangunan tahap pertama. Pada tahap pertama, Bandara Singkawang ini memiliki panjang runway 1400 M dan dapat di darati oleh pesawat jenis ATR atau pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turbodrop buatan perusahaan Pesawat Prancis-Italia ATR.

    Pembangunan Bandara Singkawang akan terus dilakukan secara bertahap, dengan panjang runway hingga mencapai 2600 M agar dapat didarati oleh pesawat jenis Boeing 737 yang berbadan besar dan gempal. Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang, Kalimantan Barat mendapat kucuran dana dari APBN sebesar Rp100 miliar untuk pembangunan bandar udara tersebut. Proyek infrastruktur pembangunan Bandara itu sudah direncanakan sejak 2018 (iNews.id, 13 Pebruari 2021).

    Saat detikborneo.com melihat lokasi Bandara, para pekerja dengan truk-truk pengangkut material memang terus bekerja kendati dimasa pandemi Covid-19. Pembangunan Bandara Baru di Kota Singkawang memang perlu dilakukan untuk meningkatkan konektivitas dan memaksimalkan potensi pariwisata yang ada di sana. Pembangunan Bandara di kota Singkawang ini menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sehingga diharapkan dengan skema tersebut dapat mempercepat pembangunan dengan tidak tergantung dengan dana dari APBN yang terbatas dan terkadang sulit cairnya.  

    Salah satu kekuatan kota Singkawang adalah warisan budaya atau kearifan lokal yang sangat dijaga oleh masyarakat setempat. Singkawang dikenal sebagai kota yang memiliki toleransi tinggi. Maka Singkawang terkenal akan perayaan budaya Imlek seperti festival Lampion dan perayaan Cap Go Meh yang bisa menjadi daya tarik turis lokal dan mancanegara untuk datang. Dengan nanti ada Bandara umum di kota Singkawang, maka jarak tempuh dari Pontianak melalui jalur darat 4-5 jam ke Singkawang bisa dipersingkat dengan naik pesawat kurang dari satu jam. Sehingga bisa menghemat waktu dan tenaga.

    Sementara itu di Singkawang, Kalimantan Barat juga sudah ada Bandara Perintis Semelagi yang mulai beroperasi. Lokasi bandara Semelagi terletak di daerah Sungai Bulan, sekitar 13 Km ke arah utara kota Singkawang. Untuk uji coba perdana hanya untuk penerbangan carter berkapasitas 12 penumpang. Rute yang dibuka yaitu Singkawang-Pontianak (PP) dan Singkawang-Sintang (PP). (iNews.id, Minggu, 26 September 2021).

    Melihat perkembangan masa depan Kota Singkawang maka masyarakat lokalnya perlu dipersiapkan secara mental dan pendidikannya agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dan ikut menikmati hasil pembangunan yang ada. Bandar Udara adalah pintu masuk masyarakat dari berbagai penjuru, termasuk masyarakat International. Adanya Bandara akan menyerap banyak tenaga kerja, tetapi sekaligus membuka pergaulan dengan masyarakat Global.  

    Untuk itu diharapkan anak-anak muda setempat benar-benar mempersiapkan diri dengan berbagai kemampuan, khususnya kemampuan penguasaan Bahasa International seperti Bahasa Inggris dan Mandarin. Dengan demikian masyarakat lokal diharapkan tidak terpinggirkan. Semoga!

    ***

    Bionarasi

    Dr. Andersius Namsi, Ph.D dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat pada 5 September 1968. Akademisi di bidang Psikologi Pendidikan Kristen dan Teologi Praktika.

    Authorship:

    1. Tubuh, Jiwa dan Roh. Kemenangan Psikologi Kristen (Jakarta, Maret 2016)

    2. Islam dan Teologi Kontekstual Alkitabiah (Jakarta, Mei 2017).

    latest articles

    explore more

    1 KOMENTAR

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini