Home / Sosok / Atan Palil: Atan Berkata, Habis Perkara

Atan Palil: Atan Berkata, Habis Perkara

| Penulis R. Masri Sareb Putra

Pria yang kerap tampil mengenakan busana dan atribut Dayak ini dilahirkan pada 25 Mei 1940. Di Kalimantan Barat (Kalbar), orang mengenal Atan Palil sebagai Dayak tulen. Yang seluruh napas dan hidupnya diabadikan demi kejayaan dan kemajuan puaknya.

Sehari-hari, ia bekerja di sebuah bank setempat dengan posisi jabatan yang tinggi. Pekerjaan sebagai “bankir” andal dan profesional dilakoninya hingga pensiun.

Ia dikenal vokal pada masalah-masalah ketidakadilan yang menimpa puak Dayak. Membela kehormatan dan nama baik sukunya. Ia juga mengkritisi isu transmigrasi dan penanangan wilayah perbatasan secara bijak demi puak Dayak.

Baca juga: Armyn Angkasa Alian: Jenderal Pulang Kampung

Atas nama Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalbar, Atan meminta Pemerintah mengkaji ulang program transmigrasi di Kalbar, utamanya di daerah perbatasan. Di mata MADN, kebijakan transmigrasi rawan memicu konflik sosial. Hal itu mengingat daerah perbatasan masih merupakan kawasan yang perlahan mulai menjadi rawan masalah. Mulai dari persoalan sosial ekonomi yang ditimbulkan perkebunan sawit hingga illegal logging. Jika saja kebijakan transmigrasi yang “top down” tidak segera dievaluasi maka ditengarai akan terjadi perusakan besar-besaran alam sekitar. Dampaknya langsung kepada masyarakat lokal yang mayoritas adalah Dayak. Hal itu meningat selama bertahun-tahun orang Dayak menggantungkan hidupnya dari alam.

Hampir di setiap kesempatan adat dan gelar budaya Dayak, Atan selalu hadir. Ia rajin turun ke lapangan mendampingi Ketua Umum MADN pada masanya, Agustin Teras Narang membawa rombongan Dewan Adat Dayak (DAD) dan MADN melakukan kunjungan budaya ke Sarawak dan Sabah, Malaysia. Kunjungan ke negara tetangga dalam rangka membangun komunikasi dan sebagai sesama suku bangsa Dayak.

Dalam berbagai kasus menyangkut hajat hidup dan mengatasnamakan Dayak, Atan kerap dimintai pertimbangan, pendapat, dan juga komentar. Sering apa yang diucapnya menjadi pegangan. Dan diikuti banyak orang.

Maka tak heran, beredar rumor. “Atan berkata, selesai perkara.” Tak peduli apa yang diucapnya mewakili corong suara MADN atau atas nama pribadi. Yang penting, Atan menyerukan kebenaran dan kepatutan, terutama yang menyangkut hajat hidup, kemaslahatan, dan masa depan Dayak dan bumi Borneo.

***

Bionarasi

R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

About Admin

Check Also

Nyelong Simon Ketua Umum LPDN Janji Akan Kirim 1000 Penari Kolosal Perempuan Dayak HUT RI Ke-78 Di IKN Saat Bertemu Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik

Nyelong Simon Ketua Umum LPDN Janji Akan Kirim 1000 Penari Kolosal Perempuan Dayak HUT RI …

Fridolinus Peno, Putra Bengkayang Satu-satunya Orang Dayak Menjadi Akuntan Publik Kalimantan Barat

Jakarta, detikborneo.com – Menjadi seorang akuntan publik mungkin suatu karier yang langka bagi kebanyakan orang. …

Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo dari Tito Fratno Ketungau Hulu Kalimantan Barat

Jakarta, detikborneo.com – Merasa infrastruktur belum di perbaiki dan terisolir, kekayaan alam yang habis di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *