Home / Sastra / Mungkinkah Kolaborasi Penulis Junior dan Senior?

Mungkinkah Kolaborasi Penulis Junior dan Senior?

| Penulis:  Paran Sakiu, M.Pd

Kolaborasi untuk masa kini adalah bagian terpenting dalam peradaban umat manusia demi hasil yang maksimal. 

Kolaborasi artinya bekerjasama untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan, demikian yang disodorkan oleh Wikipedia kepada pencari arti kata tersebut.

Tidak ada negara, lembaga, perusahan dan lain sebagainya yang tidak berkolaborasi. Semua berjejaring termasuk dalam dunia  kepenulisan. 

Kali ini kolaborasi terjadi antara penulis senior R. Masri Sareb Putra dengan Paran Sakiu dan Matius Mardani. R. Masri Sareb Putra selain sebagai penulis, editor dan penerbit, beliau adalah mentor dari kedua nama tadi. 

R. Masri Sareb Putra telah menulis ribuan artikel dan lebih dari seratus judul buku. Maka tak mengherankan bisa beliau kerap menjadi narasumber pelatihan kepenulisan dan kepengarangan diberbagai tempat baik langsung maupun melalui webinar. 

Paran Sakiu dan Matius Mardani awalnya adalah peserta pelatihan menulis yang diadakan oleh FDKJ (Forum Dayak Kalimantan Barat Jakarta). Pelatihan diadakan di kawasan Lippo Karawaci dengan penggagas utama Lawadi Nusah, S.Pd.K.

Sebagai Narasumber pelatihan adalah  R. Masri Sareb Putra. Kegiatan diadakan tahun 2020 dengan peserta lebih dari 20 orang. Selanjutnya dari pelatihan tersebut, kedua peserta pelatihan tadi bertemu secara rutin di Kawasan Lippo Karawaci dengan R. Masri Sareb Putra. Kini beliau menjadi mentor dari keduanya. 

Beranjak dari pertemuan rutin, terbit buku yang ditulis Paran Sakiu dengan judul Menimba dari Sumur Yakub, kumpulan cerpen dengan Judul Hari Terakhir dan Pesta Usai Naik Dango

Matius Mardani menerbitkan buku dengan judul Guru dan Perannya Menumbuhkembangkan Habitus Baca di Kalangan Siswa. Kemudian meningkat menjadi editor, Ghost Writer (penulis bayangan), dan bidang pengembangan literasi Sekolah Kristen Kalam Kudus Jakarta.

Kemudian bertiga membentuk 3.1 Creative Writing sebagai wadah bergiat dalam  gerakan literasi. Dan untuk menyatakan keseriusan dalam kepengarangan dan kepenulisan terutama bagi penulis junior.

Pada suatu ketika di Sanjuichi Coffee and Eatery tempat kami biasa berdiskusi/ngopi (ngolah pikir). Diskusi tentang sosok fenomenal di tanah Borneo yang mampu menyatukan Dayak di akar rumput se-Borneo dengan adat dan tradisi.

Sosok itu adalah PJ (Pangalangok Jilah) atau dikenal dengan sebutan Panglima Jilah. Data pun dikumpulkan dan Paran Sakiu harus terbang ke Kalbar melakukan wawancara langsung dengan PJ. Maka terbitlah buku biografi PJ. 

Lagi-lagi, Paran Sakiu ditugaskan terbang ke Kalbar untuk launching yang bertepatan dengan hari ulang tahun Keramat Patih Patinggi di Lonyengan-Takong, 12 Maret 2022. Dalam segmen pentas seni di malam minggu, bersama dengan PJ buku pun di Launching

R. Masri Sareb Putra dalam kesenioran tidak pernah merasa turun derajat di kala berkolaborasi menulis dengan penulis junior. Demikian juga dengan Paran Sakiu dan Matius Mardani tidak merasa besar kepala. Tidak  merasa sederajat dengan senior dan sekaligus mentor. 

Bagi R. Masri Sareb Putra berbagi ilmu dan berkolaborasi adalah  sebuah keharusan. Sedangkan bagi kedua Junior dapat berkolaborasi dengan senior adalah kehormatan. 

Apakah ini sebuah kebetulan? tidak juga. Inilah yang disebut waktunya Tuhan. Tatkala Kedua penulis junior berkolaborasi dengan penulis senior justru menambah pengalaman sekaligus dikenal banyak orang yang lebih dahulu mengenal R. Masri Sareb Putra.

Bukan itu saja, berkolaborasi merupakan bentuk pengesahan bahwa kedua junior sebagai penulis dan pengarang sungguhan. Penulis dan pengarang yang sungguh-sungguh serius menyalurkan hobi menjadi rupiah. 

Mungkinkah penulis junior berkolaborasi dengan penulis senior? Jawabnya sangat mungkin. 

***

Bionarasi

Paran Sakiu, S.Th., M.Pd. dilahirkan di Mentonyek pada 19 Maret 1971. Guru PAK di SMPK Rahmani, pegiat literasi.

Aktif menulis untuk www.detikborneo.com.

Menulis dan menerbitkan buku:

1. Menimba dari Sumur Yakub (Tangerang, 2019)

2. Kumpulan Cerpen: Hari Terakhir (Tangerang, 2020)

3. Kumpulan Cerpen: Seusai Pesta Naik Dango (Tangerang, 2021)

4. Panglima Jilah (Tangerang, 2022)

Menikah dengan Okseviorita dan telah dikarunia tiga orang anak, menetap di penjaringan, Jakarta Utara.

About Admin

Check Also

Petikan ‘Sape’ Mei-mei di Bipang Ambawang PIK 2, Alunan Musik Tradisional di Tengah Modernisasi

Jakarta, detikborneo – Musik Sape saat ini banyak di minati kalangan anak muda, bukan saja …

Nyelong Simon Ketua Umum LPDN Janji Akan Kirim 1000 Penari Kolosal Perempuan Dayak HUT RI Ke-78 Di IKN Saat Bertemu Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik

Nyelong Simon Ketua Umum LPDN Janji Akan Kirim 1000 Penari Kolosal Perempuan Dayak HUT RI …

Fridolinus Peno, Putra Bengkayang Satu-satunya Orang Dayak Menjadi Akuntan Publik Kalimantan Barat

Jakarta, detikborneo.com – Menjadi seorang akuntan publik mungkin suatu karier yang langka bagi kebanyakan orang. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *