Home / Sastra / Novelet| Kimik Si Anak Sungai (2)

Novelet| Kimik Si Anak Sungai (2)

| Penulis: H. Mugeni

Langit di atas peladangan bersih. Tiupan angin terasa segar. Dingin bekas hujan malam tadi sepertinya telah hilang dikikis cahaya matahari yang bersinar menghangatkan kulit.

Cuitan dan kicauan suara berbagai jenis burung yang hinggap dan terbang dari satu pohon ke pohon lain terdengar merdu. Di kejauhan di arah belakang pondok nampak hamparan padi menguning dan siap dikatam – dipanen.

Kimik dengan masih memakai sarung menuruni hejan (tangga) pondok. Pelan Kimik berjalan ke arah tungku pembakaran yang ada di bawah pondok. Dia perhatikan bekas pembakaran yang Dia pakai membakar ikan Saluang sore kemaren terlihat bersih. Tidak terlihat abu hitam atau tumpukan kayu bekas bakaran. “Kok bersih? Siapa yang sudah membersihkan?” Pikir Kimik merasa aneh.

Di sisi kanan ujung jalan menuju pangkalan tepian sungai, Kimik melihat Datu Gulu sedang menarik rotan hasil pencarian di hutan Kemaren. Dari perahu di tarik ke darat dan dikaitkan ke atas gantungan khusus yang dibuat sebagai tempat pengeringan dan pembersihan kulit rotan agar menjadi bersih dan licin.

“Mik, hayo ikut menyengau (memeriksa) pangilar dan tautan ikan,” ajak Datu Gulu, begitu Dia melihat Kimik sudah bangun dan turun dari Pondok.

“Sarapan dulu Datuk,” kata Kimik.
“Nanti setelah kita mengangkat pangilar dan memeriksa tautan. Mudahan kita dapat ikan banyak,” kata Datu Gulu.

“Hari ini, nenek, ayah dan ibumu akan datang ke sini. Jadi kita cari ikan dulu. Ambil parang dan tombak serampang di dapur,” Sambung Datu Gulu.

Kimik merasa girang karena ayah dan ibunya yang 3 hari yang lalu semestinya datang bersama mereka ke ladang tidak jadi berangkat. Mereka menunda keberangkatan karena ada keluarga yang baru meninggal dan harus menunggu selepas 3 hari lebih dahulu sebagaimana adat yang mereka pegang teguh.

Kimik buru-buru naik ke atas pondok, melepas kain sarung yang dipakainya. Sekejap kemudian Dia turun lagi dari pondok dan sudah pakai celana pendek tanpa baju. Parang di tangan kiri, tombak di tangan kanan. Kimik siap naik perahu ikut Datu Gulu menyengau pangilar dan tautan.

“Datu yang pegang parang, saya yang pegang tombak,”kata Kimik sambil memberikan parang ke Datu Gulu.

“Terserah kau saja,” kata Datu Gulu tersenyum.

Beberapa saat kemudian Datu Gulu dan Kimik sudah mambesey (mengayuh) perahu menyusuri pinggiran sungai. Air sungai Taringin lama terkenal ber-arus deras. Airnya hitam jernih. Di kiri kanan sungai merupakan hutan tropis dengan tegakan pohon-pohon lebat.

Di sela- sela pohon yang tinggi menjulang itu penuh semak-semak yang digenangi air sampai ke dalam hutan. Di antara semak-semak yang yang tumbuh di sepanjang kiri-kanan sungai itulah dipasang pangilar – alat perangkap ikan yang dibuat dari owei (rotan yang di anyam).

Baru beberapa pangilar yang diangkat oleh Datu Gulu, sudah banyak ikan kapar dan papuyu yang didapat. Kimik senangnya bukan main. Meskipun senang membesey – mengayuh perahu dari bagian kemudi, tetapi mata Kimik liar melirik ke kiri dan ke kanan perahu. Bahkan tidak jarang pula menoleh ke belakang. Ini karena Kimik tau bahwa di sungai Taringin Lama banyak dihuni oleh buaya buas.

Menurut cerita, buaya di sungai ini adalah buaya- buaya yang paling buas di banding buaya- buaya di Tumbang Arut bahkan buaya-buaya di Teluk Seluluk yang juga terkenal buas. Bahkan Kimik juga mendengar banyak cerita bahwa di sungai ini juga dihuni buaya kuning – buaya-buaya yang sangat menakutkan.

Selain buaya, di hutang di sekitar sungai ini juga banyak berkeliaran kahiyu – orang utan. Bagi Kimik, Kahiyu yang berlengan panjang berbulu lebat itu sangat menakutkan. Kahiyu bisa muncul tiba-tiba di atas pohon di pinggiran sungai dan bisa turun dengan cepat.

Tapi kahiyu tidak akan berani menyeberangi sungai karena takut diterkam oleh buaya- buaya ganas yang ada di sungai. Datu Gulu sering cerita, Beruk atau Bekantan sering terjatuh ke sungai karena mengantuk, dan tidak jarang langsung menjadi santapan buaya-buaya yang ada di dalam sungai ini. Teringat cerita-cerita ini, jantung Kimik berdebar juga, meskipun tidak setakut ketika akan diserang Kamiak seperti peristiwa yang dialaminya malam tadi.

“Sekarang kayuh ke seberang, kita melihat tautan”, kata Datu Gulu. Tautan adalah semacam pancing yang diikatkan pada tantaran kayu yang agak lentur dan ditancapkan di pinggir sungai. Atau bisa juga diikatkan di ranting- ranting pohon menjuntai sampai masuk 5 – 10 cm ke dalam air.

Kail tautan agak besar dari kail biasa dan diberi umpan dari ikan kecil yang hidup. Kalau sudah dipasang lalu ditinggalkan. Kalau umpan disambar ikan yang lebih besar seperti Toman, balida, gabus, maka ikan-ikan itu akan tertangkap oleh mata kail.

Heuup… ada ikan besar nyangkut di tautan. Nampak besar dan masih hidup. Tangkai tautan tampak ditarik- tarik ke ke dalam air.

“Heeiii…toman besar!” Seru Datu Gulu.
Begitu ditarik, toman besar itu berontak,meronta-ronta melawan. Tapi Datu Gulu memang hebat, seperti yang diceritakan ayah dan paman Kimik. Dengan memukul tiga kali telapak tangannya ke air, toman itu lunglai dan dengan mudah diangkat ke dalam perahu.
“Itu pasti ilmu nabi khaidir,” pikir Kimik sebagaimana sering Ia dengar dari cerita ayah dan pamannya.

Pelan-pelan Datu Gulu mengangkat ikan toman yang cukup besar ke dalam perahu. Ikan ganas yang juga dikenal berperilaku kanibal itu seperti lunglai tak berdaya.

“Datu, biasanya ikan toman itu ganas, selalu berontak kalau mau diangkat ke perahu, dan biasanya juga tidak mudah ditundukkan?” tanya Kimik kepada Datu Gulu.

“Kalau kamu yang mengangkatnya mungkin dia akan berontak dan bisa lepas. Segala sesuatu ada ilmunya, makanya harus rajin menuntut ilmu,” sahut Datu Gulu.

“Kalau begitu ajari saya Datu, biar nanti saya bisa memeriksa tautan setiap pagi sendiri,” pinta Kimik kepada Datu Gulu sambil mengayuh perahu lebih kehilir menyusuri pinggiran sungai di bawah dahan rindang pohon-pohon Bungur, pohon rangas, dan pohon-pohon hutan lainnya. Nampak buah latak manok yang berwarna merah bergelantungan di sepanjang pinggiran sungai yang sedang disusuri.

Sungai Taringin Lama ini memang aneh. Di dua sisi pinggiran sungai ditumbuhi pohon-pohon yang berbeda. Di sisi Sungai sebelah Timur hanya ditumbuhi pohon-pohon rangas, pohon Bungur, atau pohon-pohon rimbun yang tidak berbatang tinggi-tinggi. Pohon-pohon pun hanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai.

Di belakangnya sampai jauh ke belakang lagi hanya ditumbuhi gerigit, sejenis rerumputan berjeriji yang bisa membuat kulit kaki dan tangan luka tergores bila kurang hati-hati. Di Sisi belakang sungai sebelah Timur itulah orang- orang berladang menanam padi setahun sekali. Itu pun kebanyakan melakukan ladang berpindah.

Bila sudah beberapa tahun dan sekian kali panen dirasa sudah tidak subur lagi, maka akan dicari lahan baru lagi lebih ke hulu. Tetapi beberapa tahun kemudian bisa saja kembali ke ladang semula. Hanya Datu Gulu dan Angah Pari, yang tidak berpindah-pindah ladangnya.

Ini karena Datu Gulu dan Angah Pari, selain berladang juga sambil berusaha mencari owei – rotan yang memang banyak tumbuh di bagian hilir hutan Taringin Lama. Datu Haji Busri yang pondoknya agak ke hulu di antara pohon-pohon sagu, sepertinya juga menetap, tidak berladang berpindah-pindah. Ayah Kimik pun sudah berkali-kali pindah-pindah tempat berladang.

Kemudian sisi sungai sebelah Barat di seberangnya, adalah merupakan hutan tropis primer yang lebat. Pohon-pohonnya besar-besar dan tinggi-tinggi. Ada pohon meranti, pohon ramin, pohon ulin, pohon belangeran, dan banyak lagi. Di bawahnya ditumbuhi semak-semak lebat serta selalu digenangi air yang berwarna hitam kecoklatan.

Jauh di dalam hutan pun terdapat banyak pohon buahan hutan seperti buah idur, buah karanji, buah kapul dan buah- buah hutan lainnya yang enak di makan. Apalagi binatang-binatangnya banyak sekali jenisnya. Ada Kahiyu (orang utan), ada Beruk Belanda (Bekantan), monyet, Lutung dan yang kainnya.

Burung- burung pun banyak pula jenisnya yang lalu-lalang di atas sungai atau hinggap di pohon-pohon dengan berbagai macam warna-warni, macam-macam juga suara cuitan dan kicauannya. Dari burung elang, bangau, betet, gagak, belibis sampai burung hantu pun ada di sana. Di dalam sungainya kaya dengan berbagai macam jenis ikan. Ratusan jenis ikan ada di situ. Mulai dari ikan kecil seperti seluang, kapar, papuyu, lais, baung, juga udang. Kemudian banyak juga ikan-ikan agak besar seperti behau (gabus), kihung, kara sang, lalu ikan-ikan besar yang ganas-ganas seperti balida, tampahas, toman sampai buaya-buaya yang menyeramkan.

“Kamu belum cukup umur untuk belajar ilmu-ilmu itu,” jawab Datu Gulu menjawab permintaan Kimik tadi.

“Kamu harus tahu dulu kisah-kisah mukjizat para nabi seperti nabi Khaidir, nabi Nuh, nabi Sulaiman, Nabi Musa, sampai nabi Muhammad dan kisah-kisah para wali Allah yang hebat-hebat lainnya. Kamu harus mempelajari doa-doa dan zikir-zikir yang mereka amalkan,” lanjut Datu Gulu. Kimik hanya diam mendengarkan.

“Tapi nanti boleh kan saya belajar doa-doanya Datu?” desak Kimik.

“iya boleh saja, tapi nanti”.

“Seperti yang dipelajari malam-malam oleh yang datang malam-malam di rumah di Pangkalan Bun itu ya Datu?”

“Iya itu. Ayo putar perahunya kita pulang dulu,” kata Datu Gulu mengajak Kimik Pulang ke pondok.

Begitu perahu berputar lagi ke arah hulu, dan harus mengayuh lebih kuat karena melawan arus, Kimik melihat ada perahu yang di dayung seseorang datang ke arah mereka.

“Assakamualaikum Datu, Kimik,” Lego memberi salam dengan logat Bugisnya yang kental.

“Waalaikum salam…,” Sahut Datu dan Kimik bersamaan.

“Banyang dapat ikangnya ya,” tanya Lego.

“Lumayan Go,” kata Datu Gulu. Kimik hanya tersenyum sumringah.
Lego kemudian menoleh kepada Kimik.

“Mik, hati-hati ya, banyak buaya?” Kata Lego menakutkan-nakuti Kimik.

“Beres paman Lego…” jawab Kimik yakin.

“jangan beres-beres, tuh lihat di belakang mu…!” Seru Lego setengah teriak.
Kimik terkejut dan sepontan beringsut ke depan menjauh dari kemudi.

” Hak…hak…hak…,” Lego tertawa terbahak.

Datu Gulu pun ikut tertawa. Kimik merasa kesal dikerjai Lego. Kimik sedikit merangkak kembali ke kemudi. Tapi sial kakinya terpeleset. Tubuhnya pun oleng dan byuurr… Kimik jatuh terlempar ke sungai Perahu melintang di tengah-tengah sungai yang deras.

Datu Gulu yang ada di haluan buru-buru meluruskan arah perahu agar tidak oleng diterjang arus. Sebab bila perahu melintang di tengah sungai terbawa arus deras, perahu bisa oleng dan bisa karam tenggelam. Terengah-engah setengah ketakutan Kimik cepat berenang untuk menggapai perahu yang cepat menjauh darinya.

Mukanya pucat seperti tak berdarah. Bayangan buaya kuning menyergap tiba-tiba muncul di benaknya. Kimik makin panik ketika Lego berteriak…
“Awas buaya…!”

Bersambung …

***

detikborneo.com - Senin, 12 Juli 2021, 00.02

About Admin

Check Also

Paran Sakiu Lauching Buku ‘SENJA DAN CINTA’ Satu-satunya Novel Berbahasa Dayak Kandayant

Paran Sakiu Lauching Buku ‘SENJA DAN CINTA’ Satu-satunya Novel Berbahasa Dayak Kanayant

Jakarta, detikborneo.com – Paran Sakiu, M. Pd akhirnya resmi mengeluarkan buku ‘SENJA DAN CINTA’ Berakhir …

Akademisi dan Praktisi Berdiskusi keras bagi pengembangan Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di IKN

Jakarta, detikborneo.com – Pada hari Sabtu, tgl.3 Pebruari 2024 di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Kalimantan …

𝗕𝗢𝗥𝗡𝗘𝗢 𝗟𝗔𝗡𝗗 𝗢𝗙 𝗗𝗔𝗬𝗔𝗞 𝙍𝙐𝙈𝙋𝙐𝙉 dan 𝘽𝘼𝙃𝘼𝙎𝘼 𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆 𝘿𝙄 𝙋𝙐𝙇𝘼𝙐 𝘽𝙊𝙍𝙉𝙀𝙊

Kami kongsikan dari posting Dayak Heritage kerana masih ramai Malaya, Sabah dan di Indonesia tidak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *