25.3 C
Singkawang
More
    BerandaUncategorizedPelian: Ikan Santapan para Sultan

    Pelian: Ikan Santapan para Sultan

    | Penulis: R. Masri Sareb Putra

    Sepotong surga yang jatuh ke bumi.

    Barangkali berlebihan. Namun, saya tak punya kata lain untuk melukiskan keindahan, sekaligus kekayaan alam di jantung Borneo ini.

    Betapa tidak! Bumi Krayan dipenuhi kelimpahan Sumber Daya Alam. Salah satu yang terkenal adalah berbagai jenis ikan, mulai dari yang kecil, sedang, hingga yang besar. Salah satu jenis ikan paling terkenal di Krayan adalah pelian. Atau ikan luang, orang di sana menyebutnya.

    Bagaimana citarasa ikan sultan ini? Maknyuzz banget!

    Faktor makanan dan habitat turut menentukannya. Mengapa? Sebab ikan-ikan hidup di air yang mengalir, jernih, bersih, lagi pula banyak plankton, buah-buah yang jatuh ke air, serangga, ulat, lumut, dan berbagai makanan yang membuat ikan sehat dan segar secara alami. 
     
    Dari sisi kemiripan, pelian mirip sekali dengan ikan mas. Dagingnya lembut. Ikan ini suka hidup di air yang mengalir cukup deras, senang di air yang ada bebatuannya.

    Dengan sisik yang resik dan ekor yang membentuk huruf V, ikan pelian  lincah gerakannya ke sana ke mari. Sebenarnya bukan hanya Sungai Krayan, anak-anak sungai lain Seperti Fe Milau dan  perairan yang bermuara ke Sungai Krayan merupakan endemik bagi ikan pelian.

    Sederhana, sebenarnya narasi filosofi  ikan luang terkait dengan tradisi orang Krayan. Cara mendapatkan atau menangkap ikan luang, haruslah benar-benar organik, alami, menggunakan alat penangkap ikan tradisional.

    Jika bukan dengan pancing, pukat, jala, atau dengan bubu. Hingga saat ini, tidak diperbolehkan menangkap ikan seperti praktik di tempat lain yang menggunakan setrum aliran listrik, menuba dengan racun kimia, dan sebagainya yang hanya akan memusnahkan seluruh biota dan  merusak lingkungan hidup.

    Kredit gambar:
    1. Dok. penulis
    2. Gat Khaleb

    ***

    Bionarasi

    R. Masri Sareb Putra, M.A., dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 23 Januari 1962. Penulis Senior. Direktur penerbit Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja sebagai managing editor dan produksi PT Indeks, Kelompok Gramedia.

    Dikenal sebagai etnolog, akademisi, dan penulis yang menerbitkan 109 buku ber-ISBN dan mempublikasikan lebih 4.000 artikel dimuat media nasional dan internasional.

    Sejak April 2021, Masri mendarmabaktikan diri menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Institut Teknologi Keling Kumang.

    latest articles

    explore more

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini