Home / Budaya / Tungku
Dokpri

Tungku

| Penulis: Maria Fransiska

Menurut KBBI Daring, tungku merupakan alat berupa batu yang dipasang untuk perapian di dapur. Tak sembarangan. Harus menggunakan jenis batu yang keras agar tidak mudah pecah saat menahan beban masakan.

Ukuran batu penumpunya harus sama satu dengan yang lainnya. Tak hanya batu, di dapur Dayak juga memakai tungku besi, baik tungku besi berbentuk bundar maupun tungku besi berbentuk persegi panjang.

Terkait tungku, terdapat kepercayaan dan folklore lisan dalam subsuku Dayak Hibun.

Menurut kepercayaan. Batu-batu yang digunakan untuk dijadikan tungku, tidak boleh bersentuhan satu dengan yang lainnya. Ini dipercaya agar penghuni rumah yang memakai tungku tersebut tidak mudah berselisih. Selalu rukun dan saling menyayangi.

Tak hanya itu, ada juga kepercayaan yang masih sering dipraktikkan. Yaitu ketika anak sering menangis pada sore hari. Untuk mencoba menghentikannya, maka orangtua menyarankan agar kening anak tersebut harus “diconteng”. Dengan bawang merah.

Caranya kupas sedikit bawang merah tunggal pada bagian akarnya. Kemudian gosok pada tungku perapian yang ada bekas asap. Yang sudah hitam menebal dan jadi arang.

Lalu oleskan bawang merah tersebut secara horizontal dan vertikal di keningnya. Garis hitam ini dipercaya dapat mengusir roh halus yang mengganggu anak tersebut.   

Berkaitan dengan tungku, maka ada folklore Nek Tungko. Penyebaran cerita ini dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi.

Sampai hari ini, cerita nek Tungko masih hidup di kalangan subsuku Dayak Hibun. Hanya saja dikembangkan dalam versi berbeda. Karena distribusi oral yang berbeda-beda, maka cerita nek Tungko ini ada sedikit banyak perubahan.

Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap dipertahankan. Dan ada hubungannya dengan bohieng, yaitu ritual penyembuhan Dayak Hibun.

Maka disarankan membaca: Bohieng dan Hajoh | Ritual Penyembuhan subsuku Dayak Hibun, terlebih dahulu.

****

(BERSAMBUNG)*

***

Bionarasi

Maria Fransiska dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 21 Desember 1995. Copyeditor di Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja di Andi Publisher (CV. Andi Offset Yogyakarta) editor e-Book. Beberapa kali ikut dalam penulisan antologi cerpen, salah satunya Antologi Cerpen “Ganar” (2021).

About Admin

Check Also

Windy Prihastari Buka ‘Barape Sawa’ di Bengkayang, Berharap Dongkrak Jumlah Wisatawan

Bengkayang, detikborneo.com – Pejabat Ketua TP PKK Windy Prihastari sekaligus Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan …

12 Desa Wisata Kalbar Masuk Nominasi 300 Besar ADWI 2024

Jakarta, detikborneo.com – Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), Windy Prihastari mengatakan, sebanyak 12 Desa …

Karnaval Budaya Meriahkan Pekan Gawai Dayak ke 38 di Kalbar

Pontianak, detikborneo.com – Karnaval Budaya berupa pawai kendaraan hias dan berjalan bersama dengan pakai khas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *