32.3 C
Singkawang
More
    BerandaSastraCerpen | Pagebluk

    Cerpen | Pagebluk

    Penulis | Maria Fransiska

    Teriknya mentari masih menyengat tatkala aku dan ibu mencari bambu. Tak sembarangan bambu yang digunakan untuk masak. Kami mencari bambu buluh (Gigantochloa atter), untuk memasak lemang dan daging. Tempatnya jauh dari rumah, hanya ada di hilir Sungai Sekayam. Beginilah setiap tahun, demi melaksanakan nosu minu di kampung kami.

    Gawai tiga hari lagi. Dua bulan sebelumnya, ibu sudah menyiapkan tuak. Sebanyak dua tajau (tempayan) besar, hasil saringannya. Ketika aku mencicipinya, rasanya bukan main. Manis. Sementara, ampas tapainya ibu simpan untuk mencampur makanan. Entah untuk bikin pekasam babi hutan. Atau dimasak sebagai campuran pakis, juga dipakai untuk membuat arak, caranya disuling. Ada juga makanan yang kerap dibuat oleh ibu, kue keranjang ketan giling. Dan favoritku, pulut yang dimasak di dalam kantong semar (Nepenthes).

    Hari ini, hari gawai itu dilaksanakan. Pagi-pagi, ibu menyiapkan sajian nan lezat untuk para tamu yang akan datang. Biasanya rumahku selalu dipadati oleh tamu dari berbagai penjuru. Dari Bansu, Bonti, Tapa, dan Jangkang, bahkan Meliau. Datang jauh-jauh ke kampungku, Kampung Pulau Sampan. Tak hanya itu, hari itu banyak tamu dari luar, kuketahui arti sepotong-sepotong dari tuturannya.

    Kine oih urusan (kalian banyak urusan)”, kata seorang tamu bapakku yang tidak kukenali. Aku mafhum, ini adalah bahasa subsuku Dayak Golik, di daerah Balai Karangan.

    Oniah agah? Babey o mu kokiah? (Apa kabar? Kakek kamu ke mana?)”, tanya seorang pemuda yang sedang menelpon di teras rumah, yang sepertinya sebaya denganku, delapan belas tahun. Aku tahu, ini bahasa subsuku Dayak Bidayuh, yang mukim di Kecamatan Kembayan dan Noyan

    Memang. Ada beberapa bahasa subsuku Dayak yang kukenal. Lebih dari empat. Bisakah aku disebut Poliglot?

    Poliglot bahasa daerah setempat.

    Aku dari kecil memang sering mengikuti kegiatan budaya. Mulai dari lomba menggambar motif Dayak saat SD, ikut serta lomba nyanyi lagu daerah, dan pernah menjadi finalis domamakng tingkat desa.

    Aku dan beberapa temanku, si kembar Adi, Ado. Dan Robi, karibku, yang orang tuanya masuk sinan. Akan hadir dalam pembukaan acara gawai Dayak di Betang Dori’ Sunyi di Kecamatan Sebelah. Sebuah betang yang jarak tempuhnya selama tiga jam perjalanan dari Pulau Sampan. Hujan dan jalan becek, tidak menyurutkan semangatku dan ketiga temanku. Semangat yang ditabung dari jauh hari.

    “Pake apa kita ke Dori’ Sunyi?” Tanya Adi, berteriak. Rumahnya hanya beberapa langkah dari rumahku.

    “Pake motorlah. Atau ikut mobil pekap bang Abu, yang tiap sabtu bawa kulat ke Parindu.”

    “Kalau pake motor, nanti motor aku nyangkut. Jalan kampung kita kan jelek. Ndak ada aspal goreng kayak di kota, apalagi batu. Cuma aspal rebus, tanah berlumpur itu.” Jawab Adi, menggambarkan jalan di kampung kami, yang memang begitu kondisinya. Sudah tiga kali gawai kami melewati jalan yang sama, yang berlumpur dan becek.

    “Tu tadi aku bilang, ikut pekap kulat bang Abu. Jangan malu didekat kulat. Bau kulat itu kan bau duit. Kita ini besar karena kulat, selain kelapa sawit” Jawabku yang setengah meledek Adi.

    “Iya. Aku tahu. Tapi kan aku ndak mau kalau sampai di Dori’ Sunyi, kita jadi kulat juga. Duduk di dekat kulat sih ndak masalah, tapi bau kulatnya itu.. Nanti cewek di sana kabur karna ada bau kulat”

    Dua belas siang, kami berangkat ke Kecamatan Sebelah. Teriknya matahari yang baru muncul saat Robi menunaikan salat zuhur, belum cukup membantu mengeringkan jalan Kampung Pulau Sampan, yang hujan semalam.

    “Ado, gantian bawa motor ya. Aku udah mulai capek. Jalan kampung kita ni parah benar. Dah macam tempat mandi babotn (babi).” Pinta Adi kepada kembarannya.

    “Oik. Nanti gantian pas lewat kebun sawit yang ada dangau. Masih dua kilometer dari sini. Sekaligus kita istirahat di sana.” Jawab Ado, sambil menoleh, memastikan kedua temannya ada di belakang.

    Sampailah kami di dangau, di kebun kelapa sawit milik sebuah perusahaan yang sebagian sedang dideforestasi. Dan sepertinya, lokasi tersebut baru di remah. Ada sesajian. Ada rancak, ada ayam, tuak, telur, dan beras kuning di sana. Tak ketinggalan, daun sabang.

    “Boleh ndak ye dimakan? Lapar” Tanya si sinan, Robi, kepadaku, sambil menunjuk sesajian.

    “Boleh. Silakan diambil dan nikmati,” “Itu untuk ngumpan mun’t (hantu) kamang, sangun. Jangan-jangan kamu termasuk sangun. Atau kamang, atau bunyek yang sering nyembunyikan anak kecil?” Jawabku, menakut-nakuti Robi.

    “Aku lapar juga rasanya. Nasi yang dimakan dari rumah tadi, cepat sekali turunnya. Karena lewat jalan kampung kita yang sangat mulus.” Ungkap Adi kesal, sedikit ngegas. “Entah kapan ya jalan kampung kita diperbaiki? Paling ndak kasi batu kah. Masa jalan dah becek, malah ditambal lagi pakai tanah liat.

    Siapa yang punya ide konstruksi jalan yang “terlalu baik” ini? Lihat tu mobil perusahaan lalu-lalang angkut TBS ke pabrik sana. Adakah mereka peduli dengan jalan yang diinjaknya tiap hari? Kuingat, dulu waktu pemilu banyak calon politisi yang sosialisasi di kampung kita.

    Mengambil hati. Tak sedikit yang berjanji akan memperbaiki infrastruktur. Sekarang? Sembunyikah mereka di Gunung Sebomban? Padahal bulan Juni-Juli seharusnya ndak hujan ya. Kok ini hujan tak hujan tiap hari.” Adi menambah kalimatnya yang tadi, si temanku yang satu ini memang kritis.

    “Dahlah. Aku pun ndak tau kapan. Siapa ya yang sebenarnya bertanggung jawab atas jalan kita ini pun aku ndak tau. Apakah pemerintah desa, kabupaten, provinsi, pusat. Atau ada lempar-lemparan kebijakan, aku pun ndak tau. Coba tanya sama paman kamu yang kerja di Bina Marga.

    Menurutku, janji politik ndak perlu dimasukan ke ati. Aku tidak mengerti gelatik, gelanggang politik. Soal hujan tak hujan, itu pemberian Penompo (Tuhan). Terima jak lah. Kalau ndak hujan, warga di kampung ndak bisa minum. Di rumahmu juga masak air hujan kan untuk diminum? Air Sungai Sekayam kan dah terkontaminasi sekarang. Ndak baik untuk diminum. Kamu mau minum merkuri?” Jawabku.

     “Spakbor motor kita penuh becek. Tebal. Gajaaahha” Kata Ado, dengan sedikit dialek ahe-nya. Dalam tubuh si kembar, mengalir darah Kanayatn dari garis ibu, sedang bapaknya dari subsuku Pandu.

    “Mau dihancurkan lagi kah? Tiga kali lewat jalan becek parah, tiga kali juga spakbor honda tu dihancurkan. Nanti keluar uang lagi. Pasang spakbor lagi. Akaiiii.” | “Ya. Ndak ada pilihan lain lagi. Kita kan harus tiba di Sebelah, saat gawai dibuka oleh pak Bupati.” Jawab Adi, bersemangat.

    Setelah spakbor tersebut dihancurkan, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat, aku bertanya.

    “Robi, jadi mau isi ‘abang tongah’ dulu pakai ayam itu? Ayam dengan paket lengkap ya. Ada nasi, ayam, telur. Minumnya tuak. Cuma kurang sambal. Lumayan, ndak keluarkan uang. Coba bandingkan kalau kamu makan di warung padang. Sudah berapa puluh ribu yang dikeluarkan?” Sambil menunjuk sesajian dalam rancak tadi.

    “Makaseh! Kau duluan ye. Habis tu baru aku.” Jawab Robi, tertawa.

    Sampailah kami di Kecamatan Sebelah. “Acara pembukaan lima menit lagi dimulai” Kata seorang bapak, memakai pelantang suara, dengan atribut ala Dayak, King Baba. Di kepalanya, disisipkan bulu burung penyalang, dengan tato yang sepertinya tato temporer, di lengannya.

    Aku, si kembar, dan Robi, langsung mencari tenda kontingen dari kampung kami, tepat di samping panggung. Di sana, kami disuguhkan makanan. Darah babi yang dicampur dengan daun kalangka muda (Litsea angulata), dimasak dalam buluh. Sedap! Di sini juga aku menemukan makanan favoritku, pulut yang dimasak dalam kantong semar. Sementara, Robi hanya cumpalek saja. Tuak yang dicampur jahe, tetap diteguknya.

    Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. Aruuuuuuuuusss.

    Tutuh Nyak Tiop, Akal Nyak’ Midop. Ageeeeekk Yaaaaa.

    Dengan disebutkannya semboyan ini, acara gawai Dayak Besar resmi dibuka, dari 7 hingga 9 Juli. Aku dan ketiga temanku menyaksikan pak Bupati yang memberikan sambutannya, dari tangga betang. Sekarang jam empat sore. Khalayak mulai memenuhi lapangan, stand-stand di depan dan di belakang panggung, mulai diserbu.

    Dari jauh, aku melihat ibu-ibu memburu kerajinan tangan, takin, jarai, tanggui. Paling untuk persiapan panen padi, pikirku. Dan sendok besar dari kayu, mirip dengan dayung perahu. Perlombaan pertama dimulai. Sesuai nomor cabut undi, Rina Panduwinata, dari Kontingen Kecamatan Beduai, menjadi peserta pertama.

    Riuh penonton terdengar, suara tepuk tangan meriah. Rina Panduwinata membawakan lagu Kayu Ara. Anak-anak muda, orang tua-tua, bergoyang. Tak ketinggalan. Aku, dan ketiga temanku juga turut bergoyang, lagu Kayu Ara kali ini dikemas dalam nuansa musik EDM, kombinasi dengan suara sape pula! Adi, yang tadi mengeluh jalanan becek, seketika lupa dengan keluhannya. Cabut undi kedua, dari Kontingen Kecamatan Balai, Batang Tarang, membawakan lagu yang sedang viral, juga dikemas dalam musik EDM.

    “Hari-hari mengumpan babi

    babi diumpan tak mau kenyang

     hari-hari menghibur hati

    hati dihibur tak mau kenyang

    Ooooo Tangga Tebelah…..”

    Saat peserta membawakan lagu tersebut, Robi, si sinan itulah yang paling bersemangat. Seperti ada sesuatu di lagu ini. Tapi entah apa. Atau memang dia suka. Tiga temanku belum bergerak ke mana-mana. Mereka masih di depan panggung, menyaksikan peserta demi peserta yang memberikan penampilan terbaiknya.

    Sementara aku, bergeser ke lapangan seberang. Perlombaan menangkap babi sangat menyita perhatianku. Selama ini, kukira menangkap hewan yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia Dayak itu, mudah. Ternyata.. susah juga.  

    Sore itu, matahari muncul malu-malu. Angin terasa dingin. Pasti akan turun hujan. Sisa-sisa hujan bulan Juni. Seketika gendang langit bertabuh hebat. Terlihat dahan pohon kapuak (Artocarpus elasticus) dihempas angin, yang mengusir kawanan burung gereja.

    Suara geledek menyadarkanku dari lamunan. Ternyata perayaan itu, dengan khalayak yang ramai memadati lapangan. Dan stand-stand dari masing-masing kontingen kecamatan, hanya dalam imajinasiku saja, sekaligus mengenang.

    Perayaan itu kurindukan. Tidak ada lemang, tidak ada pulut di dalam kantong semar. Tidak ada gawai Dayak Besar sebagai penutup gawai nasional pada 25 April, maupun gawai-gawai lain. Apalagi di kampungku. Euforia itu tidak terasa lagi. Entah kapan berakhir.

    Si pagebluk sialan itu merenggut sukacita kami, sudah dua tahun ini.

    ***

    Bionarasi

    Maria Fransiska dilahirkan di Sanggau, Kalimantan Barat pada 21 Desember 1995. Copyeditor di Lembaga Literasi Dayak (LLD). Pernah bekerja di Andi Publisher (CV. Andi Offset Yogyakarta) editor e-Book. Beberapa kali ikut dalam penulisan antologi cerpen, salah satunya Antologi Cerpen “Ganar” (2021).

    latest articles

    explore more

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini