Home / Hukum & Kriminal, / Kembangkan Literasi Anak Lewat Cerita Bergambar

Kembangkan Literasi Anak Lewat Cerita Bergambar

| Penulis: Nur Estetis Gulo

“Bu guru, sengat itu apa,” tanya Aurora ketika guru menceritakan fabel berjudul Ratu Lebah yang sombong.

“Sengat itu adalah senjata yang digunakan oleh binatang untuk melindungi dirinya,” jawab Ibu Meri.

Yah… itulah salah satu respon anak saat mendengarkan suatu cerita melalui media buku cerita yang menarik baginya. Pengenalan literasi awal pada anak usia dini dilakukan dengan cara yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa jenuh, untuk membelajarkan sesuatu hal yang bermakna bagi eksistensinya. 

Ketika anak mendengarkan cerita, beberapa kemampuan anak dapat berkembang diantaranya kemampuan menyimak, memiliki perbendaharaan kosakata, membuat kalimat pertanyaan sederhana, dan mengetahui pesan moral yang disampaikan dalam cerita. Kegiatan mendengarkan cerita merupakan salah satu bagian dari literasi. 

Menurut elizabeth sulzby “1986”, literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. 

Menceritakan cerita sederhana melalui buku cerita kepada anak usia dini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca sejak dini serta tanpa adanya unsur intimidasi bagi anak untuk mengetahui secara sempurna seperti orang dewasa, tetapi membelajarkan literasi tersebut sesuai dengan usia dini atau fase-fase perkembangannya. 

Joyce, Weil & Chalhoun (2011) mengemukakan bahwa anak usia dini perlu belajar membangun budaya literasi atau bahasa secara alamiah. Dengan demikian periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Adapun kelebihan dan kekurangan yang didapat dari metode membacakan buku cerita secara langsung pada anak diantaranya:

  1. Mempererat hubungan komunikasi antara murid dan guru melalui tanya jawab.
  2. Melatih daya ingat anak sejak dini.
  3. Membangkitkan minat baca anak.
  4. Menanamkan moral dengan penjelasan secara langsung pada anak.

Sedangkan kelemahannya, anak didik cenderung menjadi pasif, karena lebih banyak mendengarkan atau menerima penjelasan dari guru. Pendidik di Taman Kanak-Kanak yang kreatif hendaknya dapat memilih buku cerita bergambar serta menyampaikan cerita dengan ekspresif.

***
Bionarasi

Nur Estetis Gulo, lahir di Iraonogambo pada 19 Desember 1987. TInggal di Pontianak. Pendidikan S1. Saat ini bekerja sebagai guru TK di TK Kristen Immanuel Pontianak.

About Admin

Check Also

Pihak Panitia Tegas Nyatakan Akan Melakukan Tindakan Hukum Kepada Oknum Membuat Onar di Penutupan Naik Dango Pontianak

  Jakarta, detikborneo.com – Panitia Naik Dango ke-1 Kota Pontianak menangapi dan akan tindak tegas …

Polda Kaltim Ungkap Kasus Pelanggaran UU ITE Jual foto Porno

Balikpapan, detikborneo.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim berhasil mengungkap kasus …

Akhir nya Konflik PT. BMB Berakhir Damai, Setelah Sempat di Obok-obok Pihak Ketiga

  Jakarta, detikborneo.com – Perseteruan antara para pemegang saham di dalam PT. Berkala Maju Bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *