
Tanjung, Tabalong (Kalsel), detikborneo.com — Semangat kebersamaan dan persaudaraan lintas etnis Nusantara terasa hangat dalam Perayaan Natal Kerukunan Warga Dayak 2025 yang digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, pukul 18.00 WITA hingga selesai, bertempat di Gedung GKE Tanjung, Jalan A. Yani, Maburai, Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diperkirakan dihadiri sekitar 700 peserta dan menjadi momentum penting dalam memperkuat harmoni sosial di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Perayaan Natal Kerukunan tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Kerukunan Warga Dayak – Tanjung & Murung Pudak (KWD-TMP), sebuah lembaga yang secara resmi telah terdaftar di Kementerian Dalam Negeri sejak 1 Agustus 2025. KWD-TMP dipimpin oleh Medy Budun, S.E., M.A.B., dengan perayaan Natal sebagai agenda rutin tahunan organisasi. Panitia Natal 2025 telah dibentuk sejak September 2025, dengan Hary Jonathan, S.E. sebagai Ketua Panitia, yang sekaligus dipercaya memimpin kepanitiaan Paskah 2026.
- Baca juga: Ketua Umum DAD DKI Jakarta Ucapkan Selamat, Benny Matriksa Resmi Pimpin DPW ICDN DKI Jakarta
Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Tabalong yang diwakili Tumbur Parulian Manalu, S.STP., M.T., selaku Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tabalong. Selain warga Dayak, perayaan ini juga melibatkan berbagai paguyuban kerukunan kesukuan Nusantara, di antaranya Kerukunan Warga Jawa, Batak, Toraja, Manado, Tionghoa, dan Ambon. Kehadiran lintas etnis tersebut menjadi simbol nyata persatuan dan toleransi dalam bingkai kebhinekaan di Kabupaten Tabalong.

Sebagai pembicara utama, Dr. Abriantinus, S.H., M.A., menyampaikan Renungan Firman Tuhan yang meneguhkan umat agar peka dan bijaksana menyikapi kemajuan zaman. Ia menegaskan bahwa di tengah derasnya perubahan modern—termasuk dampak kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di tanah leluhur—umat Kristiani tidak dipanggil untuk menolak perubahan, melainkan bersikap adaptif, dengan tetap berakar kuat dan bersandar pada Kasih Kristus sebagai fondasi hidup bersama.
Pesan tersebut sejalan dengan subtema perayaan:
“Kristus Sang Imanuel Menyatakan Kita Untuk Hidup Rukun, Pakat Puntal Patut, Hakadohop, Mekerai Suakng Kasih Tiap Ondro, Sebagai Umat Allah.”
Perayaan Natal Kerukunan Warga Dayak 2025 juga menampilkan kekayaan rohani dan budaya Dayak melalui pembacaan Firman Tuhan dalam berbagai bahasa daerah Dayak. Nubuatan dibacakan dalam Bahasa Dayak Maanyan (Yesaya 7:14) oleh Ibu Yeti Elahni dan Bahasa Dayak Deah (Mikha 5:1) oleh Maretha Korpita. Sementara penggenapan Firman Tuhan disampaikan dalam Bahasa Dayak Ngaju (Matius 1:22–23) oleh Bpk. Natanael, serta Bahasa Dayak Paser (Lukas 2:4–7) oleh Meilita Delfia. Ragam bahasa tersebut menegaskan bahwa Injil hidup dan berakar kuat dalam konteks budaya lokal Dayak.
Dalam sesi perayaan, turut ditampilkan Tari Giring-Giring, tarian khas Dayak Kalimantan yang sarat makna. Tarian dengan properti tongkat dan bambu berisi kerikil ini melambangkan semangat, kebersamaan, keberanian, dan rasa syukur, sekaligus menjadi pesan kuat tentang pentingnya pelestarian warisan budaya leluhur secara berkelanjutan kepada generasi penerus.
Melalui Natal Kerukunan Warga Dayak 2025, KWD-TMP berharap tumbuh kesadaran bersama dalam menyikapi perubahan zaman, baik dampak positif seperti efisiensi teknologi, kemudahan akses, peluang ekonomi, dan keterbukaan wawasan, maupun dampak negatif berupa kesenjangan sosial, konsumerisme, dan krisis identitas budaya. Dengan semangat gotong royong dan kasih Kristus, seluruh elemen masyarakat diajak bahu membahu menyongsong masa depan, tetap rukun, serta berakar kuat pada nilai-nilai iman dan budaya Nusantara. (Lawadi)






