
Opini : David Rambang
Jakarta, detikborneo.com – Pernahkah kita berpikir dan mengagumi keanehan dalam pengaturan distribusi kekayaan alam suatu negara? Mengapa Asia Barat (Timur Tengah) tanahnya gersang, dengan curah hujan rendah (±200 mm per tahun), tetapi kaya akan tambang minyak dan gas? Sementara itu, wilayah Asia Tenggara memiliki banyak gunung vulkanik, curah hujan tinggi (±2000 mm per tahun), tanah subur, dan kaya mineral, namun relatif miskin minyak dan gas.
Di sisi lain, Asia Timur cenderung miskin sumber daya alam, tetapi kaya akan sumber daya manusia yang ulet, cerdas, dan inovatif. Begitulah Tuhan mengatur dan mendistribusikan kekayaan bumi bagi kehidupan manusia: agar saling menguntungkan, saling bekerja sama, dan saling melengkapi antara kelebihan dan kekurangan masing-masing negara.
Tidak ada satu bangsa atau negara pun di dunia ini yang sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri dari sumber daya yang dimilikinya. Sebagai contoh, Amerika Serikat mandiri dalam pangan dan energi, tetapi masih bergantung pada impor logam tanah jarang dari China (yang digunakan untuk semikonduktor, chip AI, pesawat siluman, dan rudal presisi).
BACA JUGA : Pelantikan DPW ICDN DKI Jakarta Periode 2026–2031, Dorong Pemberdayaan Generasi Dayak
Amerika juga mengimpor minyak sawit dari Indonesia, sementara Indonesia membutuhkan gandum dan kedelai dari Amerika dan Kanada. Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor pupuk NPK dari Timur Tengah. Kebutuhan ekonomi ini menciptakan sistem perdagangan global melalui jalur distribusi darat, laut, dan udara.
Dunia ini ibarat tubuh manusia dengan jaringan pembuluh darah. Salah satu pembuluh darah penting dalam ekonomi global adalah Selat Hormuz. Sekitar 20% energi dunia dipasok dari Timur Tengah—Iran, Kuwait, Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Irak—melalui jalur sempit tersebut.
Konflik antara Amerika–Israel melawan Iran dapat diibaratkan seperti serangan jantung atau stroke bagi ekonomi dunia, karena berpotensi menyumbat distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Jika jalur ini tertutup, harga minyak mentah bisa melonjak dari sekitar USD 60 menjadi USD 120 per barel.Kenaikan ini juga berdampak pada energi lain seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit.
BACA JUGA : Bang Doel Siap Lantik Pengurus DPW ICDN DKI Jakarta 2025–2030 di Balai Agung Pemprov DKI
Negara yang paling terdampak
Negara seperti Singapura, Vietnam, Thailand, Filipina, Sri Lanka, dan India akan paling dirugikan. Hal ini karena mereka tidak memiliki sumber minyak sendiri dan sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Sebagai contoh, Filipina dapat menaikkan status darurat energi. Sri Lanka, India, Singapura, Thailand, dan China berpotensi menaikkan harga BBM dalam negeri hingga dua kali lipat.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia relatif lebih stabil. Pemerintah tidak menaikkan harga BBM nasional, hanya menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu. Program pemerintah tetap berjalan normal. Indonesia justru sedikit diuntungkan karena kenaikan harga minyak dunia mendorong naiknya ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit.
Memang, kenaikan harga minyak mentah meningkatkan beban subsidi dan memengaruhi APBN. Namun, hal ini masih dapat dikompensasi oleh kenaikan harga komoditas ekspor tersebut. Selain itu, keberhasilan swasembada beras pada 2026 juga membantu menjaga stabilitas anggaran negara.
Negara yang paling diuntungkan
Rusia menjadi pihak yang diuntungkan. Di tengah embargo dari Eropa dan Amerika, Rusia dapat meningkatkan ekspor minyak dan gas ke negara-negara yang terdampak krisis energi. Hal ini juga membantu pembiayaan perang Rusia–Ukraina.
Paradox ekonomi global
Negara-negara di dunia berlomba untuk mandiri—baik dalam energi, pangan, maupun teknologi—sebagai bentuk kesiapan menghadapi situasi krisis atau perang. Namun di sisi lain, Tuhan telah menetapkan bahwa setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga tercipta ketergantungan dan kebutuhan untuk saling bekerja sama. Pada akhirnya, dunia ini memang dirancang untuk saling melengkapi, bukan saling menghancurkan. Perang hanya akan merugikan dan menghancurkan ekonomi suatu bangsa.
Penulis : David Rambang (Ketua Bid 1 DPW ICDN DKI Jakarta








